Adakah kehidupan diluar bumi (4)

SETI : Project Phoenix


Artikel tentang mistery kehidupan diluar bumi yang sampai saat ini masih memiliki andil besar dalam menguras benak terdalamku untuk mencari tau akan kehidupan makhluk cerdas yang mungkin ada di luar selain planet kita. Peradaban yang mungkin telah ada ribuan tahun sebelum bumi terhuni makhluk hidup. Cukup mengagetkan ketika Seth Shostak, seorang astronomer dari SETI Institute yang pernah mengatakan perumpamaan yang berbunyi demikian, "Ada lebih banyak bintang di alam semesta dari pada butiran pasir di pantai bumi. Dan jika ada pasir dimana terjadi sesuatu yang menarik, dimana ada makhluk hidup yang pandai, berarti itu sangatlah istimewa."

Mungkin dari kalian masih sedikit mengenal istilah SETI, sebenarnya dari sekian artikel pencarian kehidupan diluar bumi ini, pekerjaan SETI memiliki peran yang sangat besar sebagai sumber artikel topic ini…tidak salah jika kita meluangkan waktu sedikit untuk menambah pengetahuan akan SETI ini yang konon berisi ilmuwan ilmuwan yang memiliki pekerjaan paling aneh didunia…


SETI merupakan singkatan dari Search Extra Terrestrial Intellegence. Sebuah Badan dimana didalamnya berisi sekelompok ilmuwan yang memiliki pekerjaan paling aneh di dunia. Ya, mereka berusaha mencari peradaban makhluk asing. Proyek SETI sebagian besar memang ditangani oleh para astronomer radio yang melakukan penelitian yang amat unik, mereka berusaha mencari sinyal berupa pancaran radio maupun transmisi laser dari teknologi peradaban cerdas yang jauh. Para Ilmuwan SETI yakin bahwa kedua jenis sinyal tersebut dapat dipancarkan dengan biaya yang relatif murah. Namun yang perlu diketahui bahwa SETI tidak melakukan studi terhadap fenomena-fenomena UFO yang memang dikatakan sering terjadi.

Pencarian sinyal-sinyal radio tersebut memiliki strategi yang cukup unik, dimana mereka mencari sinyal dalam gelombang mikro yang memiliki rentang frekuensi yang amat sempit di luar tata surya. Ini adalah jenis sinyal yang memiliki potensi besar untuk dideteksi. Diantara seluruh rentang spektrum sinyal radio, frekuensi 0.5 - 60 GigaHertz (GHz) merupakan frekuensi yang paling bebas dari gangguan oleh sinyal-sinyal yang dipancarkan oleh benda-benda alamiah. Peradaban manapun yang telah mengembangkan teknologi radio pasti akan menyadari hal ini juga dan memancarkan sinyal menurut fakta ini. Atmosfer kita pada umumnya menghalangi kita memancarkan sinyal dengan frekuensi di bawah 12 GHz, dan justru peradaban lain mungkin punya alasan untuk memilih frekuensi serendah ini.

Perkembangan teknologi kita masih terlalu muda, sebagian besar baru dikembangkan satu dua abad terakhir ini. Dan mungkin saja perkembangan teknologi peradaban di luar sana lebih tua ribuan tahun dari peradaban di bumi yang masih tergolong remaja. Dengan teknologi radio kita yang masih terlalu lemah, tentunya masih terlalu sulit bagi kita untuk mendeteksi mereka. Maka, hingga saat ini satu-satunya yang bisa diharapkan adalah transmisi berdaya tinggi yang dengan sengaja dipancarkan oleh peradaban asing untuk mengatakan keberadaan mereka.


Seth Shostak, seorang Astronomer dari SETI Institute mengatakan bahwa peradaban yang mungkin kita deteksi "adalah masyarakat dengan ribuan atau jutaan tahun dari teknologi dalam sabuk komunikatornya" Sebuah brosur public relations dalam institut SETI (1999, hal.14) mencatat bahwa "Adalah sebuah keyakinan umum bahwa peradaban apapun yang kita deteksi mungkin jauh lebih maju dari peradaban kita, kemungkinan ratusan atau ribuan tahun atau lebih di atas kita". Jill Tarter (1998) berspekulasi tentang "sepuluh juta tahun". Ray Norris (1999) membela satu juta tahun sebagai perbedaan umum yang paling mungkin. Ia menambahkan bahwa kemungkinan ETI kurang dari satu juta tahun di atas kita adalah sangat rendah. Kurang dari satu kemungkinan dalam seribu kemungkinan. Charles Lineweaver (1999) menyimpulkan perbedaan umur mungkin 5,2 juta tahun dan menunjukkan betapa "naïf", dan "bodoh" asumsi-asumsi pencarian SETI.
Adalah Martyn Fogg (1987) memperhitungkan bahwa banyak sekali peradab
an teknis muncul di galaksi kita sekitar empat juta tahun yang lalu, dan beberapa muncul lebih awal (beberapa di antaranya bahkan ada sebelum system tatasurya kita terbentuk). Tentu saja, hasil dari simulasi komputernya mengindikasikan bahwa seluruh galaksi kita mungkin telah berkolonisasi selama lima juta tahun terakhir.

Untuk mendapatkan beberapa perspektif tentang arti dari jumlah yang banyak ini, adalah berguna untuk mengingat bahwa peradaban kita hanya berumur sekitar sepuluh ribu tahun, atau lebih muda dalam beberapa defines. Baru seratus ribu tahun yang lalu nenek moyang kita adalah pemburu-pengumpul makanan menggunakan alat-alat batu dan hanya bahasa kuno.
Jika peradaban diluar sana seratus ribu tahun di atas kita, maka mereka telah cukup mampu mengirimkan satelit-satelit inteligen untuk menjelajah sistem planet lain. Setiap satelit mungkin lebih cerdas dan lebih berpengetahuan dibanding manusia, juga mungkin lebih kecil dari bola basket atau baseball . Bahkan keremajaan teknologi manusia mungkin akan mampu meluncurkan satelit antar bintang dalam dua ratus tahun, jauh lebih awal jika rencana NASA berjalan. Jadi peradaban yang ada seratus ribu tahun di atas kita diduga mengembangkan sebuah kapasitas antar bintang dahulu kala.

Karena banyak yang beranggapan potensi keberhasilannya terlalu kecil, maka hanya sedikit orang yang akhirnya meneliti peradaban makhluk cerdas di luar bumi. Hal ini juga membuat Pemerintah Amerika Serikat enggan mengucurkan banyak dana untuk proyek SETI. NASA mempunyai program SETI yang diawali lagi di tahun 1989 dan meneliti dengan teleskop pertama kali di tahun 1992, lalu dihentikan oleh kongres 1 tahun kemudian di tahun 1993. Dari sumber yang saya dapat, peneliti SETI menerima $12 juta setahun, itu dari $14 miliyar anggaran NASA untuk 1 tahun. $12 juta setahun yang diterima SETI tersebut juga dikatakan teralalu berlebihan karena lagi-lagi dikatakan kemungkinan suksesnya sangat kecil. Jadi dilakukan penyesuaian ulang terhadap $12 juta yang dihabiskan untuk proyek ini. Kini, SETI didanai oleh swasta. Jika para ilmuwan mau menggunakan parabola raksasa pemerintah untuk melakukan penelitian, mereka harus mengantri dengan peneliti lain dan menyewa dengan biaya $6000 perhari.

Sekarang kita berada di sebuah planet kecil yang mengelilingi sebuah bintang tetap. Di luar sana terdapat sekelompok bintang yang disebut galaksi. Di malam yang cerah, kita bisa melihat banyak bintang diangkasa. Itu hanya sebagian dari 400 miliyar bintang yang diperkirakan berada di galaksi kita. 400 miliyar bintang dalam satu galaksi tentu begitu sangat mengagumkan. Jika salah satu diantaranya memiliki planet, dan jika salah satu diantaranya ada kehidupan, kemudian disalah satu bentuk kehidupannya merupakan makhluk cerdas, pasti ada jutaan peradaban di angkasa sana. Tapi jika tak ada, berarti terjadi pemborosan ruangan.

Dengan teleskop ruang angkasa Hubble kita dapat menemukan lebih banyak lagi bintang-bintang yang membentuk galaksi. Kemungkinan ada 50 miliyar galaksi lain di alam semesta yang masing-masing memiliki ratusan miliyar matahari.

Teleskop Ruang Angkasa Hubble


Dimulai dengan jumlah bintang di galaksi, yaitu sekitar 400 miliyar. Untuk mencari kehidupan, kita butuh bintang yang memiliki planet seperti halnya matahari. Namun, sampai tahun 1995, pada Astronom belum menemukannya. Lalu astronomer mulai memakai peralatan baru yang bisa melacak keberadaan terkecil bintang yang memiliki planet. Mereka menemukan sistem planet di galaksi tetangga kita, Andromeda. Teleskop ruang angkasa bahkan memotret sebuah planet di konstelasi Torus. Penemuan terakhir menunjukkan sedikitnya 3-5 % dari semua bintang memiliki planet dan persentase sebenarnya mungkin lebih tinggi lagi. Tapi, berapa bintang yang memiliki planet yang memiliki kandungan air? Dari 8 planet di tata surya kita, 3 diantaranya dulu basah, tapi kini hanya di bumi yang memiliki lautan. Di tata surya kita, setidaknya ada satu planet yang ada kehidupan yaitu bumi. Jadi, katakan saja di tiap tata surya ada satu planet yang bisa ada kehidupan.

Ada beberapa planet yang benar-benar memiliki kehidupan? ini sulit. Sebab kita hanya memiliki kehidupan di bumi sebagai suatu contoh dan semua kehidupan itu saling berhubungan. Kehidupan di Planet ini ada dimana-mana, kemanapun mereka pergi, mereka bisa mempertahankan hidupnya. Kita tak tahu secara persis bagaimana kehidupan di bumi dimulai. Tapi jika kita bisa tahu apa dulu benar-benar ada kehidupan di Mars itu bisa mengatakan kepada kita. Tiap ada planet yang separuh bisa ditinggali, maka kehidupan akan berkembang. Kemungkinan optimisnya dari 50% - 100% planet akan berkembang kehidupan.

Berikutnya yang kita butuhkan adalah kehidupan yang memiliki teknologi. Jika ada makhluk pandai di planet lain, cepat atau lambat ilmu pengetahuan akan berkembang. Andai 2 dari 10 kehidupan memiliki teknologi radio, itu berarti ada 2 miliyar peradaban di galaksi kita yang bisa mengirim sinyal. Tapi, apakah peradaban-peradaban seperti itu masih ada?
Bagian terakhir dari persamaan Drake adalah masa hidup dari peradaban yang memiliki teknologi tersebut. Para ilmuwan SETI lebih menyukai pernyataan berapa lama mereka tetap mengudara?. Apakah mereka juga memancarkan sinyal-sinyal kepada kita? itu juga belum kita ketahui. Tapi jika kita optimis dan mengatakan ET akan mengudara selama minimal satu juta tahun maka jumlah siaran di galaksi kita mungkin ada sekitar 10.000.

Misalnya ada 40.000 peradaban diantara 400 miliyar bintang, mengapa kita belum mendengar transmisi apapun dari peradaban lain?
Menurut para ilmuwan, kita harus mencari 1 dari 10 juta bintang. Tapi menurut fiksi ilmiah, jika persamaan Drake benar makhluk asing seharusnya sudah ada disini. Sepertinya keturunan kita akan menjelajah dari bintang ke bintang dengan lebih pelan dari kecepatan cahaya dalam sebuah pesawat besar. Butuh waktu lama untuk sampai ke bintang lain. Mengembangkan koloni, industri, mengembangkan teknologi dan kemudian mulai menjelajah ke bintang lain. Jika itu terjadi, keturunan kita butuh waktu 60 juta tahun untuk memenuhi galaksi kita.

Jadi pertanyaan yang muncul adalah, mengapa mereka belum tiba disini? Kemungkinan pertama yaitu peradaban terlalu terpencar untuk melakukan kontak. Ide berapa lama peradaban bisa bertahan dan kemungkinan spektrum kita dalam spektrum waktu dapat berhubungan dengan spektrum makhluk pandai lainnya agar kita saling dapat bertemu. Kemungkinan kedua ialah tak ada peradaban lain yang memiliki teknologi. Mungkin kehidupan di planet lain hanya merupakan lumba-lumba, gurita, makhluk-makhluk air yang aneh yang sama sekali tak pernah keluar dari planet mereka. Kemungkinan ketiga, peradaban lain punya teknologi tapi mereka tidak memiliki keingintahuan mengenai bagian jagad raya yang lainnya. Atau mungkin sebenarnya makhluk asing tahu segalanya tentang kita? Meraka sengaja tidak melakukan kontak agar lebih leluasa untuk melakukan pengamatan kepada kita. Bagaimana jika kita sebenarnya telah lama dimati oleh mereka tanpa kita pernah mengetahuinya? sebab mereka suka dengan seni dan kebudayaan kita? Atau mereka akan punya rencana menyerang kita secara diam diam tanpa sepengetahuan kita??


continue next time…



sorce

*Super special than to dipfals
*Jonathan Ward, Understanding the Extra Terrestrial, 1998
*Tri L Astraatmaja, Adakah Seseorang di Luar Sana?
*Allen Tough, 5 Strategi Memperoleh Kontak Dengan E.T
*Wikipedia


2 comments:

Anonymous said...

maaf bisakah anda mengubah warna tulisannya menjadi warna putih???

soalnya agak sulit dibaca....

muluksitajul said...

haha.betul.
saya sokong anda Anon.

Post a Comment

Kirim komentar

 
Home | Gallery | Tutorials | Freebies | About Us | Contact Us

Copyright © 2009 Misteri Fenomena |Designed by Templatemo |Converted to blogger by BloggerThemes.Net

Usage Rights

DesignBlog BloggerTheme comes under a Creative Commons License.This template is free of charge to create a personal blog.You can make changes to the templates to suit your needs.But You must keep the footer links Intact.